Langsung ke konten utama

Taqwa: Antara Harapan dan Kenyataan, Bagaimana Mewujudkannya?

Tulisan tentang Taqwa sudah sangat banyak beredar. Namun keberadaan orang yang tidak bertaqwa juga semakin marak. Ini menunjukkan masih banyak orang yang belum mengenal Taqwa dengan sebenarnya. Orang bilang, "Tak kenal maka tak sayang". Melalui tulisan ini, penulis akan berusaha membahas Taqwa dari sudut pandang yang berbeda agar pembaca berselera untuk bertaqwa. Amin...


Manusia dan keinginannya

Manusia diciptakan dengan kemampuan untuk memiliki berbagai keinginan, terlepas apakah keinginannya itu  ilegal atau tidak dalam pandangan Agama. Dan melalui naluri alamiahnya manusia akan berusaha untuk mewujudkan keinginan tersebut agar menjadi kenyataan, dengan cara yang benar atau salah. Dari sinilah bermula suasana perasaan "PUAS" dan "KECEWA".

Sayangnya, sebenarnya tak ada hal yang benar-benar memuaskan dalam kehidupan dunia ini. Sehingga, besarnya kemungkinan seseorang untuk memperoleh kepuasan dalam hidup ini adalah 0%. Hal ini dibuktikan oleh kondisi lapangan bahwa, setiap manusia yang hidup di dunia ini MASIH memiliki peluang untuk dihinggapi kekecewaan, dan ini cukup untuk mengatakan bahwa dunia bukanlah tempat yang memuaskan. Segala hal di dunia ini memiliki komposisi dasar yang bernama "kekecewaan".

Kepuasan identik dengan kebahagiaan. Dan kebahagiaan adalah unsur utama penyusun kepuasan itu sendiri. Pada kenyataannya, kebahagiaan dalam hidup ini ternyata tidaklah stabil atau kekal. Jika kebahagiaan di dunia ini tidak kekal maka kepuasannya juga tidak kekal. Dengan kata lain, kebahagiaan hidup di dunia ini tidaklah memuaskan.

Contoh:  kekayaan, kecantikan, atau kesehatan adalah contoh kebahagiaan. Orang yang memilikinya pasti memiliki kepuasan dalam hatinya.

Permasalahannya adalah:

Apakah ada orang yang selalu kaya dalam hidup ini?

Apakah ada orang yang selalu cantik dalam hidup ini?

Apakah ada orang yang selalu sehat dalam hidup ini?

Jawabannya: Tidak ada, ketiga orang di atas bisa saja memiliki keadaan yang sebaliknya dengan atau tanpa sebab yang jelas. Hal yang paling memungkinkan bagi mereka untuk memperoleh keadaan yang sebaliknya dijelaskan sebagai berikut.

Ketika seorang yang kaya meninggal, saat itu juga ia telah menjadi orang yang sangat miskin karena hanya tinggal di petak yang sempit, tanpa pelayan atau asisten pribadi, jelasnya ia tidak lagi berkuasa atas hartanya.

Saat wanita cantik sudah masuk usia tua, saat itulah ia mulai menjadi wanita yang keriput dan jelek karena jalannya yang mulai membungkuk.

Begitu pula orang yang sehat, ketika ia sakaratul maut karena menghadapi kematian sebenarnya ia telah menjadi orang yang sakit parah karena badannya yang kaku dan tak bisa menolak kematian.

Saat semua itu (kematian, usia tua, sakaratul maut) terjadi, kepuasan manusia terhadap kekayaan, kecantikan, dan kesehatan menjadi berakhir. Yang tinggal hanyalah kekecewaan karena telah membanggakan ketiga hal tersebut.

Jadi, ketika seseorang berusaha mencari kepuasan dalam kehidupan dunia ini maka sebenarnya ia hanya  menabung kekecewaan demi kekecewaan.


Taqwa merupakan satu-satunya solusi untuk menemukan kepuasan dalam kehidupan dunia dan akhirat

Ini adalah kabar gembira bagi kita semua bahwa Islam sebenarnya telah menawarkan solusi untuk menemukan kepuasan. Namun, kepuasan di sini tidak hanya memiliki satu arti melainkan dua arti! Yakni, ketenangan dan kebahagiaan. Ketenangan untuk kehidupan di dunia, Dan kebahagiaan untuk kehidupan di akhirat (Surga) nanti.

Begitulah, satu-satunya hal berharga yang ada di dunia ini hanyalah ketenangan. Sedangkan kebahagiaan hanya ada di akhirat.

Sebenarnya kebahagiaan juga terdapat dalam kehidupan dunia. Namun karena setiap kebahagiaan di dunia ini memiliki akhir, maka sebenarnya ia hanyalah kebahagiaan yang semu dan tak pantas disebut kebahagiaan sejati. Sebab itu penulis lebih suka mengatakan bahwa hal paling berharga yang bisa ditemukan oleh manusia dalam kehidupan dunia ini adalah ketenangan, sedangkan kebahagiaan tidak pernah ada kecuali di akhirat (Surga). Akhirat adalah kehidupan yang sebenarnya, karena ia lebih abadi ketimbang kehidupan dunia.

Kebahagiaan identik dengan pemenuhan segala keinginan secara berkesinambungan (abadi: tidak berakhir) dan tanpa cacat (sempurna: bebas dari kekurangan). Sementara ketenangan identik dengan perasaan yang bebas dari kegelisahan pikiran atau keputus-asaan, kekhawatiran akan kekurangan, ketakutan akan azab dan perasaan negatif lainnya yang berpotensi mendatangkan kekecewaan. Dan mengacu pada pengertian tersebut, maka tak ada kebahagiaan dalam hidup ini, yang ada hanyalah ketenangan. Dan ketenangan tersebut bisa diperoleh dengan cara bertaqwa, karena Taqwa mengajarkan pola hidup yang positif, terkontrol, dengan kesadaran penuh terhadap makna hidup yang sebenarnya.


Mengapa harus bertaqwa?

Eksistensi (keberadaan) manusia adalah kekal, abadi. Walaupun manusia mengalami kematian, itu bukanlah akhir dari eksistensinya. Seperti halnya saat bayi dilahirkan ke dunia ini. Kelahiran bayi tersebut bukanlah akhir dari kehidupan bayi tersebut. Justru, kelahiran bayi tersebut merupakan awal dari kehidupannya yang lebih besar, yakni perpindahan alam kehidupan dari alam kandungan menuju alam kehidupan dunia.
Begitu juga dengan kematian. Dia bukanlah akhir dari kehidupan manusia. Kematian hanyalah transisi masa dari kehidupan manusia dan merupakan "proses" kelanjutan menuju kehidupan berikutnya. Kematian adalah awal dari kehidupan manusia menuju dimensi kehidupan yang lebih besar, lebih kekal dan lebih sempurna, yakni Akhirat.
Di sinilah pentingnya peranan bertaqwa bagi diri manusia. Dengan Taqwa manusia akan memperoleh kepuasan dalam semua dimensi kehidupannya, di dunia yang merupakan kehidupannya saat ini, dan di akhirat yang merupakan masa depannya nanti.
Jadi, ada dua alasan mengapa manusia harus bertaqwa, yakni demi kebaikan hidupnya di dunia dan di akhirat. Di dunia memperoleh ketenangan, dan di akhirat memperoleh kebahagiaan. Adapun penjelasan dari keduanya adalah sebagai berikut.

Alasan pertama, untuk memperoleh ketenangan. Betapa mahalnya ketenangan hidup sehingga manusia melakukan berbagai upaya untuk mendapatkannya. Namun sebagian besar orang telah keliru karena telah mengartikan ketenangan hidup sebagai  kondisi pikiran yang rileks (relax). Rileks adalah kondisi pikiran yang santai, terlepas apakah ia menyalahi kenyataan atau tidak. Sementara ketenangan merupakan kondisi perasaan yang bebas dari perasaan terbebani dalam menghadapi kenyataan hidup yang sesungguhnya.

Beberapa orang memanipulasi perasaannya agar tenang dengan cara merangsang atau memaksa pikirannya untuk rileks. Hal ini dilakukan misalnya, dengan cara tamasya, nonton film, minum minuman keras, nyabu atau aktvitas lainnya yang berpotensi membuat pikirannya untuk berpikir di luar kenyataan. Dan pada kenyataannya semua aktivitas tersebut ternyata tidak mampu membuat mood perasaannya tenang, bahkan membuatnya bertambah semakin gelisah.

Contoh: Seorang pemabuk memperoleh ketenangan di saat mabuk, karena telah berhasil melupakan kenyataan. Namun ketika kesadarannya kembali, ia akan berhadapan lagi dengan kenyataan yang sebenarnya, sehingga perasaannya kembali gelisah, bahkan lebih gelisah ketimbang sebelum ia mabuk. Begitu juga ketika seseorang berusaha mencari ketenangan dengan nonton film. Setelah film habis, kesadarannya kembali kepada kenyataan hidup yang sebenarnya, dan kegelisahan perasaannya meningkat ketimbang sebelumnya.

Di lain pihak, Taqwa bekerja dengan cara yang sangat berbeda dan sangat menakjubkan. Taqwa dapat menghadirkan ketenangan dalam perasaan melalui penjernihan pikiran dan perbaikan tindakan nyata dalam menghadapi persoalan-persoalan hidup. Ini dikarenakan karena Taqwa memiliki metode yang unik; yakni benar dalam keyakinan, benar dalam pemikiran dan benar dalam tindakan. Melalui metode tersebut Taqwa akan membawa seseorang kepada kondisi psikologi yang baik, walaupun dengan ragam keterbatasan karena tak mampu mengubah semua kenyataan hidup yang ada.

Kemudian...,

Alasan kedua mengapa manusia harus bertaqwa adalah agar ia memperoleh kebahagiaan. Akhirat ─ yang merupakan kehidupan abadi, adalah masa depan ummat manusia yang sebenarnya. Setelah peristiwa Kiamat, maka kehidupan dunia ini terhapus dan yang ada hanyalah kehidupan abadi tanpa kematian, itulah akhirat. Taqwa dapat memastikan seseorang memiliki masa depan yang cerah di akhirat nanti, dengan Surga sebagai jaminan tempat tinggalnya.


Proyek masa depan yang sesungguhnya

Manusia diperintahkan untuk bertaqwa. Itu adalah pekerjaannya, dan misi kehidupannya di dunia. Dan ketika seseorang telah bekerja, bukankah ia pantas untuk menerima upah? Benar, ia sangat pantas menerimanya. Taqwa adalah suatu pekerjaan di dunia yang upahnya dibayar sempurna di Akhirat nanti.

Jadi, dalam kehidupan dunia ini pada dasarnya setiap manusia sedang mengemban sebuah proyek yang besar. Yakni, proyek membangun masa depannya sendiri di Akhirat. Dan itu hanya bisa diwujudkan melalui aktivitas yang bernama TAQWA, dengan kematian sebagai deadline nya.  Sebab itu, sudah sepantasnyalah jika setiap orang melihat seberapa baik ia telah menggarap proyek ini dalam hidupnya.


Pengertian Taqwa yang sebenarnya

Taqwa bisa diartikan sebagai suatu sikap pengendalian diri sesuai dengan perintah Agama. Perintah Agama terbagi atas dua hal, yakni perintah untuk melaksanakan dan perintah untuk meninggalkan. Taqwa bisa juga disebut sebagai bentuk kepatuhan kepada aturan Agama, rasa takut kepada Allah sebagai Sang Pencipta, dan penerimaan akan takdir (keputusan)-Nya.

Adapun tujuan akhir dari Taqwa adalah, yakni agar Allah Ridla (senang) terhadap hamba-Nya. Keridlaan Allah inilah yang akan mendatangkan dua kebaikan, yakni kebaikan di dunia (berupa ketenangan hidup) dan kebaikan di akhirat (berupa kebahagiaan memperoleh Surga dan terbebas dari Neraka).

Bagaimana cara bertaqwa yang benar?

Manusia diciptakan dengan satu tujuan yang pasti, yakni untuk beribadah (yakni, mengabdi) kepada Allah. Ibadah inilah yang akan membentuk Taqwa dalam diri seseorang. Setiap ibadah yang dilaksanakan oleh seorang akan membuat keimanannya semakin mantap, pemikirannya semakin jernih dan tindakannya semakin terarah (sesuai perintah Agama). Itulah suasana Taqwa pada diri seseorang. Dan semua itu hanya bisa diperoleh dengan cara meningkatkan ibadah kepada Allah, baik dari segi kualitas ataupun kuantitas.

Jadi, ibadah merupakan sarana yang bisa mengantarkan seseorang kepada ketaqwaan, hingga akhirnya ia disebut sebagai Muttaqin (orang yang bertaqwa).


Konsep ibadah yang sebenarnya

Ibadah adalah suatu keadaan hati, pikiran dan tindakan yang tidak melalaikan Allah. Ibadah adalah suatu wujud pengabdian kepada Allah dalam berbagai bentuk sehingga menghasilkan pribadi yang bertaqwa, yakni orang yang berkeyakinan, berpikir dan bertindak sesuai aturan Agama. Dengan demikian, orang yang beribadah adalah orang yang selalu bertindak benar (sesuai aturan Agama), penuh keimanan, ikhlas (yakni mencari Ridla Allah), dan berprasangka baik kepada Allah.

Berdasarkan pengertian di atas, ibadah bukan hanya berarti Shalat, Puasa, Zakat, dan Haji. Lebih dari itu, ibadah memiliki arti yang sangat luas secara umum. Segala bentuk sikap atau perbuatan yang dianjurkan (walaupun terkadang tidak diwajibkan) oleh Agama adalah Ibadah. Misal, bersedekah, menyayangi binatang, berkata jujur, memalingkan pandangan dari yang haram, bersikap ramah, menghargai non muslim, menyayangi anak-anak, menghormati orang tua, tidak sombong dengan kekayaan, belajar rajin, suka berbuat baik, suka membantu sesama dalam kebaikan, mencintai ulama', berdzikir, membaca Shalawat, mencari nafkah yang halal, berdoa sebelum tidur, menyantuni fakir miskin, memaafkan kesalahan, membayar hutang, dan perbuatan-perbuatan baik lainnya yang tidak bertentangan dengan perintah Agama. Semua perbuatan yang disukai oleh Allah pada dasarnya merupakan ibadah dan bisa mendatangkan Ridla-Nya.

Salah satu fungsi ibadah yang paling utama adalah untuk mendatangkan pertolongan dari Allah agar bisa bertaqwa kepada-Nya.



Taqwa adalah proses seumur hidup

Benar, Taqwa adalah proses seumur hidup. Dalam arti bahwa, Taqwa yang dimiliki oleh seseorang harus ia pertahankan seumur hidup. Kondisi seperti ini disebut: Istiqamah (konsisten).
Seseorang mungkin akan bertanya demikian,
Bukankah manusia adalah makhluk yang sering berbuat kesalahan? Bagaimana mungkin ia bisa mempertahankan ketaqwaan dalam dirinya seumur hidupnya?

Memang benar demikian bahwa manusia seringkali berbuat kesalahan, sehingga ia cenderung tak mampu mempertahankan ketaqwaan yang ada dalam dirinya.
Namun, menggunakan alasan ini untuk berhenti bertaqwa adalah sangat tidak dibenarkan.
Mengapa?
Karena Islam telah memberi garansi bahwa, barangsiapa yang mau menghapus kesalahannya (yakni bertaubat) sebelum akhir hidupnya (yakni kematian) maka kesalahannya itu akan dihapus (diampuni) dan menjadikan orang yang bersangkutan seolah tak pernah berbuat kesalahan sama sekali.
Dengan adanya garansi semacam ini, yakni ampunan tanpa syarat dari Allah Yang Maha Pengampun terhadap kesalahan hamba-Nya maka, TAK ADA ALASAN BAGI MANUSIA UNTUK TIDAK BERUSAHA BERTAQWA.
Manusia dituntut berbuat benar dengan cara bertaqwa. Dan kalaupun suatu saat ia berbuat salah maka ia bisa menghapusnya dengan bertaubat.
Jadi, apakah bertaqwa itu sulit?
Tidak.
Lalu, apakah bertaqwa itu mudah?
Juga tidak.
Taqwa itu sulit bagi mereka yang tidak memiliki keinginan akan masa depan yang cerah, khususnya di kehidupan akhiratnya.
Dan Taqwa itu ━Insya Allah━ mudah bagi mereka yang benar-benar memiliki keinginan kuat akan masa depan yang cerah dalam kehidupan akhiratnya. Di sinilah pentingnya peranan ibadah (terutama ibadah yang wajib dan sunah), yakni agar Allah senantiasa memberikan kemudahan dan kekuatan agar bisa bertaqwa.
Taqwa adalah pilihan, bukan paksaan. Dan manusia adalah makhluk yang selalu punya pilihan, setidaknya sebelum terlambat, tentunya. Taqwa hanyalah sarana bagi mereka yang benar-benar menginginkan kepuasan hidup di dunia dan akhirat.


Kunci utama dalam membangun ketaqwaan

Tak ada level aman dalam hidup ini, termasuk dalam masalah ketaqwaan. Bisa jadi ketaqwaan yang dibangun oleh seseorang selama beberapa waktu menjadi ambruk begitu saja karena kelalaiannya sendiri. Sebab itu, sikap waspada yang tinggi sangat diperlukan. Inilah kunci utama dalam membangun ketaqwaan.
Lalu, siapa yang harus paling diwaspadai?
Dalam hal ini yang paling harus diwaspadai adalah diri sendiri. Seseorang yang ingin istiqamah dalam bertaqwa maka ia harus sering-sering introspeksi diri sebisa mungkin di setiap waktu dalam setiap keadaan, yakni: apakah Allah Ridla (senang) dengan tindakannya atau malah sebaliknya, yakni Murka kepadanya? Jika Allah Ridla kepadanya maka hendaklah ia bersyukur dan berusaha lebih baik lagi. Namun jika Allah murka kepadanya maka hendaklah ia cepat-cepat bertaubat dan segera memperbaiki tindakannya. Ukuran Ridla dan Murkanya Allah dapat diketahui dengan cara melihat hakikat dari tindakan itu sendiri, apakah tindakan tersebut menyalahi aturan Agama atau tidak. Jika tidak menyalahi aturan Agama, berarti ada Ridla Allah di dalamnya. Namun, jika menyalahi aturan Agama berarti ada Murka Allah di dalamnya. Waspadalah!


PRAKTIK

Pembaca yang budiman, mari coba mempraktekkan Taqwa dalam beberapa waktu dan lihat efek yang ditimbulkannya terhadap kondisi kejiwaan. Ini semacam tes sederhana namun ampuh untuk memahami efek Taqwa di kehidupan nyata. Caranya sederhana, selama 1 minggu penuh laksanakanlah ketaatan kepada Allah dengan melaksanakan perintah-Nya dan jauhi maksiat, serta perbanyak ibadah (yakni berbuat baik) apapun bentuknya. Di hari ke-8, cek perasaan Anda: apakah Anda merasakan ketenangan yang memuaskan atau tidak, lalu bandingkan dengan keadaan Anda yang sebelumnya (yakni, sebelum mempraktekkan tes ini). Jika gagal, ulangi hingga berhasil.
Jika berhasil dalam tes ini, Anda akan memperoleh perasaan tenang yang menakjubkan.  Dan itu hanyalah buah dari Taqwa selama 1 minggu. Bagaimana jika Anda berhasil melaksanakan ketaqwaan lebih lama dari itu, 1 bulan misalnya, 1 tahun atau bahkan seumur hidup Anda? Tentu hasilnya akan lebih menakjubkan lagi!
Taqwa bukanlah amalan (aktivitas) sembarangan. Taqwa adalah ilmu dan amalan para Nabi. Mereka para Nabi membangun ketenangan jiwa mereka dengan ketaqwaan yang sangat tinggi. Sehingga separah apapun keadaan yang mereka hadapi, mereka bisa bertahan dan menghadapinya dengan penuh ketenangan sehingga akhirnya berhasil melaluinya dengan pertolongan Allah. Keadaan seperti itu bukanlah hal yang aneh mengingat mereka adalah orang yang berada di atas kebenaran. Sebagai contoh: Lihatlah Nabi Ibrahim 'alaihissalam ketika dilemparkan ke dalam kobaran api untuk dibakar, beliau menghadapinya dengan tenang dan akhirnya selamat dari kobaran api tersebut, tak cedera sedikitpun. Atau pada kisah Nabi Nuh 'alaihissalam ketika ditelan ikan, beliau akhirnya selamat sejahtera. Atau juga pada kisah Nabi Musa 'alaihissalam yang terpojok oleh kejaran tentara Fira'un namun akhirnya diselamatkan oleh Allah melalui lautan yang terbelah sehingga Musa dan kaumnya bisa menyebranginya, sementara Fira'un dan tentaranya tidak bisa! Dan masih banyak lagi contoh-contoh semisal itu yang menggambarkan betapa menakjubkannya buah dari Taqwa.



Selamat menempuh hidup baru

Pembaca yang budiman, Taqwa adalah jalan menantang yang penuh dengan tantangan. Tidak akan melaluinya kecuali orang-orang yang berkelas. Jika Anda memilih Taqwa sebagai jalan hidup Anda, maka Andalah orang yang berkelas itu!
Selamat menempuh hidup baru!









Komentar

Postingan populer dari blog ini

Malam Lailatul Qadar Bulan Ramadlan 2017

Malam Lailatul Qadar Bulan Ramadlan 2017 Insya Allah terjadi pada: Sabtu, 17 Juni 2017 (malam Minggu) Hal ini berdasarkan kaidah yang dipaparkan oleh Imam al-Ghazali dalam kitab Ihya 'Ulumuddin nya, bahwa waktu terjadinya malam Lailatul Qadar dapat diketahui dari malam permulaan bulan Ramadlan itu sendiri. Beliau telah mengamati terjadinya Lailatul Qadar dari tahun ke tahun hingga akhirnya beliau membuat kaidah (formula/rumus) untuk memprediksi waktu terjadinya malam Lailatul Qadar. Berikut Kaidahnya: 1. Jika permulaan bulan Ramadlan terjadi pada malam Minggu atau malam Rabu, maka malam Lailatul Qadar jatuh pada malam ke-29 2. Jika permulaan bulan Ramadlan terjadi pada malam Senin, maka malam Lailatul Qadar jatuh pada malam ke-21 3. Jika permulaan bulan Ramadlan terjadi pada malam Selasa atau Jum'at, maka malam Lailatul Qadar jatuh pada malam ke-27 4. Jika permulaan bulan Ramadlan terjadi pada malam Kamis, maka malam Lailatul Qadar jatuh pada malam ke-25 5. Jika permulaan bul…

Saatnya melakukan perubahan

Kita, sadar atau tidak pasti akan mengalami perubahan. Namun, perubahan yang bagaimanakah yang kita inginkan. Perubahan kepada yang lebih baik membutuhkan modal yang tidak sedikit. Dalam artian, kita harus berjuang keras dan mau belajar dari waktu ke waktu.

Di sinilah pentingnya sharing antar sesama. Selain bisa menambah wawasan baru, bisa memperkaya pikiran untuk dijadikan perbandingan dalam menghadapi aneka model permasalahan hidup. karena dalam konsep kehidupan modern, semuanya, tak terkecuali permasalahan juga modern.


okay, salam kenal semua. Di sini Ali. bagi yang tertarik untuk ngobrol sekadar untuk menghangatkan perasaan atau untuk mencairkan pikiran yang jenuh karena kram oleh ragam permasalahan, bisa ikuti twitter saya di @kudujaga atau invite pin BBM saya D7F1CC29 dan BBM channel saya: C003F0EBC

Terima Kasih.


Pamekasan, 1 Juni 2017